keterlibatan dalam organisasi internasional

Agustus 20, 2008

Dalam sistem politik global, Australia adalah Negara barat yang berlokasi di kawasan asia pasifik yang memiliki hubungan yang dekat dengan amerika utara dan eropa. Australia juga memiliki sejarah di kancah politik, ekonomi dan militer yang berhubungan dengan asia. Sepanjang sejarahnya sebagai Negara merdeka, Australia aktif dalam menjalin hubungan internasional baik di dalam maupun di luar kawasan asia pasifik. Hubungan dengan Negara-negara asia merupakan prioritas kebijakan eksternal Australia yang tidak akan pernah hilang. Australia memiliki kepentingan ekonomi yang besar di asia. Negara-negara asia dihitung sebagai tujuh dari sepuluh Negara pasar ekspor terbesar bagi Australia dan merupakan sumber investasi yang besar bagi Australia dan merupakan sumber investasi penting, partner keamanan yang utama dan sumber pendatang terdidik.

  1. South Pacific Forum

Keterlibatan Australia dalam South Pacific Forum(SPF) telah dimulai ketika Australia menjadi salah satu penggagas South Pacific Commission (SPC) yang merupakan langkah awal dari terbentuknya SPF. Prinsip pendekatan Australia ke kawasan pasifik adalah adalah untuk mendukung pendekatan structural bagi kerjasama regional yang secara prinsip dicapai melalui dukungan untuk SPF. Forum tersebut penting karena menyediakan dasar bagi identitas kawasan yang muncul. SPF adala forum tempat para pemimpin Negara-negara pasifik dapat bertemu dan menemukan solusi bagi masalah-masalah yang terjadi di kawasan pasifik. Dukungan Australia untuk forum tersebut diperkuat dengan fakta bahwa dalam beberapa tahun terakhir para pemimpin dalam SPF telah sukses membangun agenda pasifik yang komprehensif dan membuat consensus supaya Negara-negara anggota SPF menyadari potensi pembangunan mereka. Hasil forum Brisbane pada tahun 1994 mencerminkan kesadaran para pemimpin di kawasan pasifik akan pentingnya pelestarian laut, hutan dan sumber daya alam lainnya, seperti dituangkan dalam Regional Logging of Conduct oleh 6 negara anggota SPF di forum Madang pada tahun 1995. Madang forum menghasilkan kesepakatan atas reformasi ekonomi yang penting yang bertujuan untuk menstimulasi pedagangan dan investasi, mengembangkan efisiensi dan akuntabilitas sector public dan menciptakan kondisi agar sector privat dapat berkembang. Australia juga memberikan beberapa program bantuan teknis mulai dari memberikan saran untuk pembangunan, capacity building perdagangan dan investasi bagi negar-negra anggota SPF. Selain itu, Australia juga melakukan kerjasama kawasan dalam hal militer. Aksi bersama yang dilakukan Negara anggota SPF membuahkan hasil yang cukup signifikan mendorong Amerika Serikat, perancis, dan inggris untuk menandatangani tiga protocol South Pacific Free Zone Treaty-The Treaty of Rarotonga pada tahun 2003. Dengan ditandatanganinya perjanjian ini maka kawasan pasifik akan tebebas dari tes-tes nuklir yang selama ini selalu diadakan di kawasan pasifik. Pemerintah Australia juga mengadakan kerjasama bilateral dengan Negara-negara di kawasan pasifik. Salah satu Negara yang mendapat banyak bantuan dari Australia adalah Papua Nugini dengan kucuran dana bantuan dari Australia sebesar $325 juta. Dengan bantuan Australia juga Samoa barat dapat mendirikan Unit Promosi Investasi (Investment Promotion Unit) dalam departemen perdagangan, bisnis dan industry.

  1. Australia, New Zealand, United States Security treaty (ANZUS)

Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru menandatangani pakta pertahanan ANZUS pada tahun 1951. Pakta pertahanan ini menjadi satu-satunya aliansi pakta pertahanan Australia. Pakta pertahanan ANZUS dirumuskan di San Fransisco pada 1 september 1951 dan mulai berlaku pada 29 April 1952. Pakta ini mengikat para pesertanya untuk menyadari bahwa serangan bersenjata di wilayah pasifik oleh salah satu dari mereka dapat membahayakan perdamaian dan keselamatan yang lain. Dalam pakta ini ketiga Negara juga berjanji untuk mempertahankan dan mengembangkan kemampuan individu dan kolektif untuk menahan serangan. Pada tahun 1985, sifat aliansi ANZUS berubah setelah pemerintah Selandia Baru menolak akses kapal angkatan laut AS yang memiliki kemampuan senjata nuklir ke wilayahnya. Dalam memenuhi kewajiban ANZUS, Australia dan amerika serikat mengadakan kegiatan-kegiatan bersama. Hal ini termasuk latihan bersama dan pertukaran latihan militer. Kedua Negara juga menjalankan fasilitas pertahanan bersama di Australia.

Dengan terjadinya peristiwa 9-11 pada tahun 2001, perdana menteri Howard dan presiden Bush bersama-sama mengirim unit militer termasuk pasukan khusus dan kapal-kapal angkatan laut untuk mendukung Operation Enduring Freedom yang dipimpin oleh AS untuk mendukung pasukan anti-taliban dalam perang sipil di Afghanistan. Pasukan pertahanan Australia (ADF) berpartisipasi dalam aksi koalisi militer melawan Irak. Militer dan tenaga ahli sipil Australia ikut serta dalam pendidikan pasukan keamanan irak dan rekonstruksi irak. Pasukan khusus Australia (Australian Special Forces) dikirim kembali ke Afghanistan untuk membantu mengamankan pemilihan umum Negara tersebut pada 18 september 2005. Pemerintah Australia memendang bahwa keamanan Australia bergantung pada hubungan yang kuat dengan amerika serikat, dan ANZUS memiliki memiliki dukungan kedua Negara yang luas. Pada dasarnya kemampuan Australia untuk membentuk lingkungan keamanan tergantung pada hubungan kemanan dengan Amerika Serikat yang memfasilitasi pengembangan kemampuan dan profesionalisme ADF. Pemerintahan Howard menyadari bahwa tipe ADF yang dibutuhkan Australia tidak akan tercapai tanpa akses teknologi yang diberikan oleh aliansi Amerika Serikat. Berkaitan dengan konflik Timor Leste, Australia, dan Selandia Baru mengirimkan pasukan besenjata dalam operasi skala besar di Timor Leste antara tahun 1999 dan 2003. Sementara Amerika Serikat menirimkan dukungan logistic yang terbatas. Operasi ini kemudian diambil alih oleh PBB.

  1. ASEAN Regional Forum

ASEAN regional forum (ARF) dibentuk pada tahun 1994. Forum ARF memiliki 25 negara anggota yang menaruh perhatian bagi keamanan Asia Pasifik. Dari 25 anggota ARF, terdapat 10 anggota ASEAN (Brunei, Myanmar, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam); 10 negara mitra Negara ASEAN (Australia, Kanada, Cina, Uni Eropa, India, Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan, Rusia, dan Amerika Serikat), dan 5 negara pengamat ASEAN (Papua nugini, Korea utara, Mongolia, Pakistan dan Timor Leste). ARF menjadi suatu wadah tempat Negara anggota dapat berdiskusi mengenai isu keamanan regional yang terjadi dan mengembangkan aturan kejasama untuk meningkatkan perdamaian dak keamanan di kawasan.

ARF Concept Paper yang dibuat pada tahun 1995 membentuk tiga pendekatan ARF terhadap pembangunan, dari Confidence-building ke diplomasi preventif,dan dalam jangka panjang damn menuju kemampuan resolusi konflik. Lima ahli keamanan Australia telah dinominasikan untuk ARF register of Experts And Eminent Persons. Australia merupakan Negara anggota pendiri ARF dan menjadi partisipan dalam setiap aktifitas dan diskusi forum. Australia terus konsisten menganjurkan perlunmya ARF mengembangkan kapasitas untuk merespon dengan efektif isu-isu yang dapat mengancam keamanan regional. Dengan adanya serangan teroris di Amerika Serikat pada 11 September 2001, Australia selalu digaris depan dalam usaha menolong ARF membuat kontribusi praktis untuk usaha anti terorisme regional. Dalam hal ini, Australia bertindak sebagai penyelenggara bersama Singapura mengadakan seminar menangani Konsekuensi Serangan Besar teroris (Workshop on managing the consequences of a major terrosist attack), di Darwin pada juni 2003. Austalia juga secara aktif mulai mempromosikan kerjasama bantuan bagi bencana alam di kawasan. Australia bersqama Filipina mengadakan seminar Operasi Militer-sipil (workshop on civil Military operations), berfokus pada respon terhadap bantuan bencana alam, di Manila pada September 2005.

Australia adalah partisipan aktif dalam ASEAN Regional Forum (ARF). Pada September 1999, bertindak di bawah mandate Dewan keamanan PBB , Australia memimpin koalisi internasional untuk mengembalikan perdamaian di Timor leste. Pada tahun 2006, Australia kembali berpartisipasi dalam operasi menjaga perdamaian di Timor Leste . Departemen luar negeri dan Perdagangan Australia (Departement of Foreign Affairs and Trade) memiliki tanggung jawab untuk kebijakan ARF, berkonsultasi dengan Departemen Pertahanan . melalui program bantuan , Australia mendukung aktifitas AUSCSCAP (Australian Member Commite of the Council for Security Cooperation in the Asia Pasific).


keterlibatan dalam perang

Agustus 20, 2008

Perang dalam pengertian umum yang telah diterima adalah suatu pertandingan (contest) antara dua negara atau lebih terutama dengan angkatan bersenjata mereka, tujuan akhir dari setiap kontestan atau masing-masing kelompok kontestan adalah mengalahkan kontestan atau kontestan lain dan membebankan syarat-syarat perdamaiannya. Hal ini sesuai dengan konsepsi teoritis ternama mengenai perang, Karl von Clausewitz (1780-1831), menurutnya perang adalah perjuangan dalam skala besar yang dimaksudkanoleh suatu pihak untuk menundukkan lawannya guna memenuhi kehendaknya. Keterlibatan australia dalam peperangan dimulai ketika terjadinya perang Boer di Afrika Selatan pada tahun 1899-1902. Pada waktu itu Australia sebagai negara koloni dari Inggris wajib mengirimkan pasukannya untuk bergabung dalam pasukan Inggris raya. Perang Boer itu sendiri merupakan perang kemerdekaan rakyat Afrika Selatan yang ingin memisahkan diri dari koloni Inggris. Perang Dunia I yang terjadi pada tahun 1914 dan dilatarbelakangi oleh terbunuhnya putera mahkota kerajaan Austria-Hongaria serta gejolak sistem internasional yang sudah tidak kondusif adalah perang yang melibatkan Australia juga di dalamnya. Meskipun pada waktu terjadinya perang dunia pertama ini Australia bersama dengan Selandia baru hanya sebagai pasukan yang diperbantukan oleh pemerintah Inggris namun keterlibatannya ini menjadikan satu titik tolak dari keterlibatan Australia dalam perang yang berskala besar. Meletusnya perang dunia II pada tahun 1930-an menjadi arena berikutnya bagi Australia untuk menunjukkan kapabilitas dari kekuatan militernya, walaupun masih tetap sama seperti pada perang dunia I dimana Australia masih sebagai pasukan yang diperbantukan, namun keterlibatannya dalam dua perang berskala besar bisa dijadikan modal penting bagi Australia untuk mendapatkan kepercayaan dari negara-negara besar yang akan dijadikan sebagai sekutu guna menjaga stabilitas keamanan wilayahnya. Melalui kerangka ANZUS yang terbentuk pada tahun 1951 antara Australia, Selandia Baru dan Amerika Serikat. Australia terlibat dalam perang sipil yang terjadi di Afghanistan. perdana menteri Howard dan presiden Bush bersama-sama mengirim unit militer termasuk pasukan khusus dan kapal-kapal angkatan laut untuk mendukung Operation Enduring Freedom yang dipimpin oleh AS untuk mendukung pasukan anti-taliban dalam perang sipil di Afghanistan dan pada tahun 2005 pasukan khusus Australia kembali dikirimkan ke Afghanistan untuk membantu mengamankan pemilihan umum Negara tersebut pada 18 september 2005. Pada perang irak pun pasukan pertahanan Australia berpartisipasi dalam aksi koalisi militer melawan Irak. Militer dan tenaga ahli sipil Australia ikut serta dalam pendidikan pasukan keamanan irak dan rekonstruksi irak. Berbeda dengan keterlibatannya dalam perang-perang sebelumnya. Kali ini pasukan Australia tidak hanya sebagai tentara pelengkap yang diperbantukan melalui kerangka Inggris sebagai Negara koloninya. Hal tersebut tidak lepas dari kemandirian yang dimiliki oleh pertahanan Australia khususnya pasca kemerdekaan yang didapatnya.


keterlibatan dalam perjanjian internasional

Agustus 20, 2008
  • Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.

Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun 2050. (sumber: Nature, Oktober 2003)

Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). Ia dinegosiasikan di Kyoto pada Desember 1997, dibuka untuk penanda tanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.

  • Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty) adalah suatu perjanjian yang ditandatangi pada 1 Juli 1968 yang membatasi kepemilikan senjata nuklir. Sebagian besar negara berdaulat (187) mengikuti perjanjian ini, walaupun dua di antara tujuh negara yang memiliki senjata nuklir dan satu negara yang mungkin memiliki senjata nuklir belumlah meratifikasi perjanjian ini. Perjanjian ini diusulkan oleh Irlandia dan pertama kali ditandatangani oleh Finlandia. Pada tanggal 11 Mei 1995, di New York, lebih dari 170 negara sepakat untuk melanjutkan perjanjian ini tanpa batas waktu dan tanpa syarat.

Perjanjian ini memiliki tiga pokok utama, yaitu nonproliferasi, perlucutan, dan hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai.

  • protocol South Pacific Free Zone Treaty-The Treaty of Rarotonga pada tahun 2003. Dengan ditandatanganinya perjanjian ini maka kawasan pasifik akan tebebas dari tes-tes nuklir yang selama ini selalu diadakan di kawasan pasifik


sejarah interaksi internasional

Agustus 20, 2008

Hubungan luar negeri Australia telah merentang dari masa negara tersebut masih berstatus sebagai dominion dan kemudian sebagai koloni dari negara inggris. Australia kemudian memiliki posisi sebagai sekutu setia dari Amerika Serikat selama perang dingin. Pada masa sekarang, Australia bergerak menuju keterikatannya dengan Asia sebagai sebuah kekuatan. Hubungannya dengan komunitas internasional dipengaruhi posisinya sebagai negara perdagangan besar dan sebagai donor kemanusiaan yang penting.

Kebijakan luar negeri Australia diarahkan oleh suatu komitmen untuk multilateralisme dan regionalisme, seperti hubungan bilateral dengan sekutunya yang kuat. Perhatian utama Australia termasuk perdagangan bebas dan terorisme, intergrasi dengan Asia dan stabilitas di kawasan Asia Pasifik. Dalam artikelnya di The Australian journal of International Affairs pada tahun 2001, Perdana Menteri Alexander Downer mengatakan bahwa keamanan Australia dan pekerjaan dan standar hidup masyarakat Australia merupakan kepentingan yang terkandung dalam inti kebijakan luar negeri dan perdagangan Australia. Dalam melakukan interaksi dengan negara lain, Australia berpatokan pada tujuan dan kepentingan nasional yang ingin dicapainya.

1. Tujuan Nasional Australia

Tujuan dasar politik luar negeri Australia adalah menjaga integritas dalam lingkungan internasional yang saling bersaing. Integritas suatu bangsa bukan hanya mencakup perlindungan terhadap aset-aset yang penting seperti wilayah teritori, sumber daya alam dan manusia dalam batas negara tetapi juga memelihara sistem ekonomi, politik, sosial, budaya masyarakat yang turun temurun secara singkat. Hal-hal tadi disebut sebagai etos fisik dan sosial dari sebuah negara. Ada dua sikap kelompok nilai yang membangun etos nasional Australia. Sikap kelompok nilai yang pertama adalah campuran antara nilai budaya, etika, agama dan etnis yang menentukan sikap dan moralitas masyarakat. Sedangkan kelompok nilai yang kedua adalah campuran antara nilai, social, politik dan ekonomi yang dipelihara oleh masyarakat dalam aturan-aturan administrative. Tujuan utama dari politik luar negeri suatu Negara adalah kelangsungan hidup dan untuk itu keamanan Negara adalah suatu hal yang mutlak. Keamanan Negara bukan hanya keamanan secara fisik dari serangan maupun invasi, tetapi berarti juga perlindungan dari agresi ekonomi Negara lain, yang juga berarti mengamankan dasar nilai dan budaya masyarakat dari penerapan ideology luar negeri yang bertentangan.

2. kepentingan Nasional Australia

Dalam melihat kepentingan nasional Australia, terdapat empat prioritas pokok. Pertama, memelihara keamanan yang positif dan lingkungan strategis dalam kawasannya. Berarti Australia memiliki kepentingan langsung dalam menjamin situasi yang aman dan damai di Negara-negara sekitarnya agar tetap terpelihara dengan stabil. Kedua, mendukung terciptanya keamanan global. Ketiga, kerjasama ekonomi, investasi dan perdagangan. Australia ingin memobilisasi pengaruh politik internasional untuk mendukung tujuan ekonomi internasional dengan cara membuka pasar barang ekspor, memperluas kesempatan-kesempatan ekonomi bagi sector industri Australia dan terus menciptakan persepsi bahwa Australia merupakan tempat yang menarik untuk melakukan penanaman modal asing serta menempatkan pemerintah Australia sebagai mitra yang ideal untuk kerjasama. Keempat, menjadi warga dunia yang baik dengan australia terus memainkan peranan yang positif dan konstruktif diantara aneka ragam isuyang sekarang menjadi subyek diplomasi multilateral, seperti penanganan masalah pengungsi, terorisme, perdagangan obat-obatan terlarang dan masalah kesehatan dunia.


Australia Menjanjikan Bantuan Hingga Rp 21,25 Triliun Kepada Indonesia

Agustus 20, 2008

Australia berharap untuk memberikan bantuan hingga Rp 21,25 triliun (A$2,5 milyar) dalam jangka lima tahun kepada Indonesia untuk menangani kemiskinan dan membantunya mewujudkan prioritas sosial dan ekonominya.

Indonesia sedang mengambil langkah-langkah penting untuk mewujudkan Sasaran Pembangunan Milenium untuk mengurangi kemiskinan dan memastikan semua anak mempunyai akses ke pendidikan dasar.

Australia bertekad untuk bekerja dalam kemitraan dengan Indonesia guna mewujudkan Sasaran Pembangunan Milenium dan menciptakan kehidupan yang lebih baik kepada rakyat yang termiskin di Indonesia. Indonesia merupakan mitra bantuan pembangunan terbesar Australia. Salah satu proyek terkemuka kemitraan kita adalah prakarsa Rp 2,788 triliun (A$ 328 juta) untuk memperbaiki ratusan kilometer jalan nasional dan jembatan di 10 propinsi di Indonesia Timur. Tender akan diadakan pada Agustus sehingga pembangunan dapat dimulai pada proyek pertama 25 jalan.

Jalan adalah vital untuk pembangunan ekonomi dan sosial – memberikan petani akses ke pasar, menghubungkan masyarakat ke layanan pokok seperti sekolah dan klinik dan mendorong investasi. Proyek jalan merupakan bukti nyata dukungan Australia untuk Indonesia yang makmur. Di bidang pendidikan pun kemitraan Australia-Indonesia semakin kukuh.

Besok (Selasa, 12 Agustus 2008) saya akan bergabung dengan Menteri Luar Negeri RI Dr Hassan Wirajuda yang akan melakukan perjalanan ke Sulawesi Selatan untuk membuka sekolah yang didanai oleh Australia – salah satu dari 1000 sekolah yang telah dibangun atau sedang dalam pembangunan di seluruh Indonesia.

Ini adalah titik pertengahan proyek untuk membangun atau memperluas 2000 sekolah menengah pertama dan sekolah Islam untuk memberi para pemuda Indonesia akses ke pendidikan yang bermutu lebih baik dan masa depan yang lebih baik. Seluruh 2000 sekolah akan selesai dibangun pada akhir 2009. Kita juga akan meluncurkan prakarsa ketahanan pangan dan berkunjung ke proyek yang akan meningkatkan produktifitas pertanian.

Skala dan kekukuhan Kemitraan Australia Indonesia merupakan bukti tekad kita, sebagai tetangga, untuk membangun kawasan yang makmur.


Australia Meningkatkan Bantuan untuk Ketahanan Pangan di Indonesia

Agustus 20, 2008

Australia akan menyediakan bantuan sebesar $6,5 juta (Rp 55.25 milyar) untuk periode dua tahun kepada World Food Programme untuk menangani masalah kekurangan gizi yang diakibatkan kekurangan pangan kronis di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Suplemen nutrisi pangan akan disediakan bagi mereka yang sangat rentan termasuk wanita-wanita hamil dan menyusui dan anak-anak.

Program dua tahun ini melanjutkan mitra kerja Australia dengan Program Pangan Dunia dan juga akan membangun kemampuan Pemerintah Indonesia dalam mengawasi dan menanggapi dampak kekurangan pangan bagi masyarakat di propinsi-propinsi ini.

Dan sebagai tambahan bagi bantuan langsung ini, dukungan jangka panjang juga akan diberikan untuk membantu memperbaiki ketahanan pangan.

Australia telah berkomitmen A$38 juta (Rp323 milyar) untuk meningkatkan produktifitas Indonesia di bidang pertanian.

Prakarsa tiga tahun ini akan menghubungkan para petani dengan para peneliti untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas hasil panen mereka, termasuk daging, kakao, tepung jagung dan kacang-kacangan.

Ini juga akan menghubungkan para produsen dengan perusahaan-perusahaan yang menjamin akan membeli hasil panen mereka dengan harga yang sepadan, membantu meningkatkan penghasilan para petani dan mengurangi kemiskinan di daerah pedesaan.

Hari ini saya dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Hassan Wirajuda mengunjungi contoh pertanian kakao di Sulawesi Selatan, dan bertemu dengan para petani, peneliti dan pembeli yang yang bekerjasama melalui prakarsa ini.

Australia mengelola proyek-proyeknya melalui AusAID dan bermitra dengan Pusat Penelitian Pertanian Internasional Australia (ACIAR).

Proyek ini menggabungkan keahlian ilmiah kelas dunia, Pemerintah Australia dan Indonesia, Bank Dunia dan Badan Keuangan Internasional (IFC).


jawaban uas

Agustus 20, 2008

UJIAN AKHIR SEMESTER MATAKULIAH ICT-HI

NAMA : BUDHIYONO

NIM : 44304036

KELAS : HI-2

DOSEN : H. BUDI MULYANA, S.IP.

  1. Resume dalam Bentuk Bagan

Kelompok Kawasan : Asia Pasifik

Nama Negara : Australia

Kapabilitas Politik Negara

Paham yang dianut

Uraian

Keterangan

Ideologi Liberalisme

Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme. Australia sendiri memiliki ideologi politik liberalisme yang merupakan warisan dari para pembawanya yang berasal dari Eropa. Hal itu bisa terlihat dari pola kehidupan sehari – hari penduduknya serta dalam kehidupan pemerintahannya yang menjadikan Australia sebagai sebuah keunikan tersendiri di tengah – tengah budaya dan ideologi yang beranekaragam yang berada di Asia Tenggara khususnya.

Teknologi Bertujuan untuk menjaga kredibilitas bangsa Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua hal yang saling terkait bagi perjalanan kehidupan bangsa australia dimana sebagai sebuah negara yang dikatakan maju terutama di kawasannya, kedua hal tersebut adalah suatu modal penting yang harus selalu menjadi fokus dalam menjaga kredibilitasnya sebagai sebuah negara besar. Pengembangan teknologi itu sendiri digunakan sebagai pendukung dalam agenda ekonomi dan juga keamanan Australia di percaturan internasional. Dengan adanya modal teknologi yang kuat yang dimiliki oleh australia maka akan memudahkan negara ini untuk mencapai setiap tujuan dan kepentingan nasionalnya. Pengembangan teknologi australia bergerak dalam berbagai bidang diantaranya adalah bidang kesehatan,keamanan melalui produksi kapal-kapal serta pendukung utama sendi ekonomi negara melalui industri-industri seperti pengolahan bijih besi, timah dan lain sebagainya.
Ekonomi ekonomi campuran (mixed economy) Australia memiliki ekonomi campuran (mixed economy) yang sejahtera, dan bergaya-Barat, dengan PDB per kapita sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Britania Raya, Jerman dan Perancis. Negara ini berada di peringkat ketiga pada Indeks Perkembangan Manusia tahun 2004 dan keenam dalam kualitas hidup 2005 oleh hasil survei majalah The Economist. Pada tahun-tahun belakangan ini, ekonomi Australia telah kembali setelah menghadapi ekonomi global yang melemah. Pengeluaran yang meningkat dalam ekonomi dalam negeri telah menekan penurunan ekonomi, dan keyakinan konsumen dan bisnis tetap kuat. Australia menekankan reformasi sebagai salah satu faktor kunci di belakang kekuatan ekonomi. Ekonomi Australia tidak mengalami resesi sejak awal 1990-an. Pada Juli 2005, pengangguran masih dalam kisaran 5%. Sektor jasa, termasuk pariwisata, pendidikan, dan jasa finansial membentuk 69% dari PDB. Pertanian dan sumber daya alam hanya membentuk 3% dan 5% dari PDB, tapi cukup membantu banyak dalam ekspor Australia. Pasar ekspor Australia terbesar termasuk Jepang, Cina, AS, Korea Selatan dan Selandia Baru. Hal yang menjadi perhatian para ekonomis termasuk defisit anggaran (current account deficit) dan juga tingkat hutang luar negeri bersih (net foregin debt) yang tinggi.

PDB total per tahun : $579.662 juta

Mata uang : Dolar Australia (AUD)

Demografi Kebanyakan penduduk Australia yang sekurang-kurangya 20,6 juta adalah keturunan pendatang dari abad kesembilanbelas dan keduapuluh, kebanyakan dari Britania Raya dan Irlandia. Seperti banyak negara maju yang lain, Australia sedang mengalami peralihan demografi terhadap penduduk yang lebih tua usianya, penduduk di bawah dan di atas umur bekerja. Australia telah memelihara salah satu program imigrasi di dunia untuk meningkatkan jumlah penduduk. Sebagian besar imigrannya terlatih, namun kuota imigrasi termasuk kategori untuk anggota keluarga dan para pengungsi. Bahasa Inggris ialah bahasa resmi, diucapkan dan ditulis dalam varietas yang berbeda yang dikenal sebagai Bahasa Inggris Australia. Australia tidak memiliki agama negara. Sensus 2001 menyatakan bahwa The 68% orang Australia menyebut diri sebagai Kristen : 27% menyebut diri sebagai Katolik Roma dan 21% sebagai Anglikan. Orang Australian yang bukan beragama Kristen ialah 5%. Jumlah dari 16% dikelompokkan “Tak Beragama” (yang termasuk kepercayaan non-teistik seperti humanisme, ateisme, agnostisisme dan rasionalisme)
Militer menganut konsep pertahanan yang disebut Forward Defence konsep pertahanan yang disebut Forward Defence, yaitu menempatkan pasukan di luar negaranya seperti di Korea Selatan, Vietnam, Semenanjung Malaysia dan Serawak di Malaysia Timur sebagai kerjasama pertahanan dengan Inggris dan Amerika Serikat. Dalam pengkajian strategi tahun 1993, ditegaskan bahwa AB Australia harus mampu melaksanakan operasi secara mandiri dan harus mampu menangkal jangkauan senjata musuh dengan memanfaatkan geografi Australia. Pertahanan Australia berorientasi pada kemampuan. Bukan pada ancaman. Secara realistik tidak ada satu negarapun yang bermaksud menyerang Australia, tetapi dalam dunia modern ancaman dapat berkembang lebih cepat ketimbang kemampuan militer. Dilihat dari segi geografis, Australia sangat mudah diserang dari arah utara. Dengan demikian AB Australia harus selalu siap dalam menyelenggarakan pertahanannya di belahan utara benuanya. Mengingat bahwa Australia hanya memiliki sejumlah kecil penduduk, maka dasar pertahannya tidak bertumpu pada jumlah kekuatan militer yang besar, tetapi pada teknologi tinggi.
Geografi Bangsa Australia merupkan satu-satunya bangsa yang memiliki benua. Benua ini merupakan benua yang luas dan sangat luar biasa. Dari semenanjung Cape York di Queensland di utar sampai ke tanjung tenggara di pulau Tasmania, panjangnya sekitar 3.220 km, sedangkan dari Titik Curam di Australia barat di sebelah barat hingga ke Tanjung Byron di New South Wales di timur, panjangnya sekitar 3.860 km. Kekayaan mineral ditemukan di semua bagian Australia, tetapi wilayah barat yang kering ini merupakan tempat harta karun mineral. Di Jajaran Hamersley terdapat banyak endapan bijih besi. Berbagai endapan mineral – seperti timbal, seng , perak, tembaga, uranium, nikel, emas dan banyak lainnya – ditemukan di banyak bagian Plato Barat Besar. Luas wilayah Australia : 7.686.850 km²
Diplomasi Berpatokan pada tujuan dan kepentingan nasional

Hubungan Australia dengan komunitas internasional dipengaruhi oleh posisinya sebagai sebuah negara perdagangan yang besar dimana pola interaksi yang terjalin derpatokan terhadap tujuan dan kepentingan nasional nya.

Tujuan nasional Australia :

menjaga integritas dalam lingkungan internasional yang saling bersaing

Kepentingan nasional :

Terdapat 4 pokok yaitu

- memelihara keamanan yang positif dan lingkungan strategis dalam kawasannya

- mendukung terciptanya keamanan global

- kerjasama ekonomi, investasi dan perdagangan

- menjadi warga dunia yang baik

Dalam hubungannya, Australia sangat memperhatikan potensi dalam membangun kerjasama baik dalam konteks bilateral ataupun regional. Pada saat ini fokus utama Australia adalah menjalin kerjasama dengan Amerika Serikat&Inggris serta negara-negara dari kawasan Asia baik dalam konteks ekonomi maupun keamanan.
Sejarah Interaksi Internasional Dilandasi oleh motif ekonomi dan isu keamanan Dalam melakukan interaksinya dalam sistem internasional Australia diarahkan oleh suatu komitmen untuk multilateralisme dan regionalisme. Hal tersebut tercermin melalui keanggotaannya dalam organisasi internasional baik regional maupun internasional. Hal tersebut dilakukan dalam upayanya untuk mencapai segala kepentingannya. Amerika serikat serta Inggris memang menjadi fokus utama Australia dalam menjalankan perannya namun Australia juga menganggap Asia sebagai sebauh potensi yang sangat penting sebagai pangsa pasar bagi produk-produk Australia. Disamping itu kawasannya yang rentan terhadap serangan dari luar menjadikan Asia dan Asia pasifik sebagai prioritas utama dalam kerjasama keamanan selain dari Amerika Serikat & Inggris tentunya.

Keterlibatan Australia dalam organisasi internasional diantaranya :

  • South Pcific Forum

  • ANZUS

  • ASEAN regional Forum
Keterlibatan dalam Perang Banyak dipengaruhi oleh kepentingan Negara besar seperti Inggris dan Amerika Perang-perang yang pernah melibatkan Australia di dalamnya dari sejak Perang Dunia I sampai pada Perang Irak baru-baru ini, sebagian besar memang dipengaruhi oleh kepentingan dari Negara-negara besar yang memiliki kedekatan khusus dengan Australia. Inggris sebagai Negara induk dari Australia pada waktu itu banyak melibatkan Australia dalam peperangan meskipun hanya sebagai pasukan yang diperbantukan. Pasca kemerdekaannya, Australia juga banyak mengekor terhadap kepentngan Amerika Serikat sebagai sekutu utamanya seperti yang terjadi pada perang Afghanistan dan Perng Irak.

Perang yang pernah diikuti oleh Australia:

  • Perang Boer di Afrika Selatan pada tahun 1899-1902

  • Perang Dunia I tahun 1914

  • Perang Dunia II

  • Perang Afghanistan

  • Perang Irak
Keterlibatan dalam Perjanjian Internasional Berakar pada tujuan dan kepentingan nasional negaranya Tujuan dasar politik luar negeri Australia adalah menjaga integritas dalam lingkungan internasional yang saling bersaing. Integritas suatu bangsa bukan hanya mencakup perlindungan terhadap aset-aset yang penting seperti wilayah teritori, sumber daya alam dan manusia dalam batas negara tetapi juga memelihara sistem ekonomi, politik, sosial, budaya masyarakat yang turun temurun secara singkat. Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai oleh Australia tersebut maka Australia banyak melibatkan diri dalam keanggotaan organisasi internasional dan juga perjanjian internasional guna memudahkan dalam menjalin interaksinya dengan pihak lain yang bias menunjang pemenuhan kepentingan dan tujuan nasionalnya.

Perjanjian internasional yang pernah diikuti oleh Australia :

  • Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change

  • Nuclear Non-Proliferation Treaty

  • Regional Logging of Conduct dalam kerangka ARF

  • protocol South Pacific Free Zone Treaty-The Treaty of Rarotonga pada tahun 2003

2. Resume weekly news

(a) Berdasarkan Weekly news, Uraikan dalam 200 kata, kondisi real yang terjadi di negara masing-masing.

(b) Kaitkan kondisi real tersebut dengan basis keseluruhaan kapabilitas negara. Kemukakan alasan mengapa kondisi tersebut (resume weekly news) terjadi. Uraikan dalam 100 kata.

(a). Australia dikatakan sebagai sebuah Negara besar yang sudah bisa dikatakan maju dalam berbagai bidang kehidiupan baik dalam bidang ekonomi, politik dan juga keamanan. Dengan PDB per tahun sebesar $579.662 juta, menjadikan Australia sebagai sebuah Negara yang sangat diperhitungkan dan berpengaruh di kawasan dan juga di kawasan sekitarnya seperti Asia. Pada masa sekarang, Australia bergerak menuju keterikatannya dengan Asia sebagai sebuah kekuatan. Hubungannya dengan komunitas internasional dipengaruhi posisinya sebagai negara perdagangan besar dan sebagai donor kemanusiaan yang penting. Sesuai dengan Kebijakan luar negeri Australia yang diarahkan oleh suatu komitmen untuk multilateralisme dan regionalism, atas dasar itulah maka Australia banyak memeainkan perannya untuk menjadi sebuah Negara yang berpengaruh melalui kerangka kerjasama internasional dalam konteks organsasi baik regional maupun internasional. Melalui kerangka inilah Australia sebagai sebuah Negara yang maju kemudian banyak memberikan bantuan financial terhadap Negara-negara yang membutuhkan khususnya Negara-negara yang ada di kawasan Asia dan Pasifik yang notabene kebanyakan berstatus Negara berkembang dan miskin. bantuan sebesar $6,5 juta (Rp 55.25 milyar) untuk periode dua tahun kepada World Food Programme untuk menangani masalah kekurangan gizi yang diakibatkan kekurangan pangan kronis di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, Indonesia, merupakan salah satu contoh nyata bagaimana Australia mencoba untuk bias dijadikan sebagai sebuah kekuatan dan mitra penting di kawasan. Hubungan antara Australia dan Indonesia itu sendiri tercipta semenjak berlangsungnya perang dingin. Terdapat setidaknya dua factor yang sangat menentukan arah dan sifat dari hubungan antara Australia-indonesia. Factor pertama yaitu kedekatan geografis. Factor kedua yaitu perbedaan dalam hal pengalaman sejarah. Kedua factor tersebut memiliki dampak terhadap hubungan bilateral kedua Negara dan mengakibatkan terbentuknya sikap ambivalen pada Australia. Dalam arti bahwa bila ditinjau dari aspek ekonomi, Indonesia merupakan sumber bahan baku bagi industry atau pasaran dari produk Australia. Ditinjau dari aspek politik dan militer, Negara Indonesia berkompeten mencegah persaingan konfrontatif antara Negara-negara besar di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu bagi Australia, Indonesia merupakan sebuah potensi besar guna mencapai kepentingan dan tujuan nasionalnya.

(b). Australia terletak di belahan bumi bagian selatan antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Benua Australia membentang dari garis lintang 10o 41′LS sampai garis lintang 43o 39′LS dan dari garis bujur 113o 09′BT sampai 153o 39′BT. Dengan Luas wilayah 7.682.300 km2dan lebar wilayah kira-kira 3200 km dari pantai timur ke barat dan panjangnya 3700 km dari Tanjung York di pantai utara sampai Tanjung Tenggara di Tasmania merupakan wilayah yang lumayan besar dan memiliki potensi yang cukup besar juga dari segi sumber daya alam. Pasca mendapatkan kemerdekaannya dari inggris pada tahun 1901, Australia mulai membangun kekuatan negaranya untuk bisa diperhitungkan dalam tatanan system internasional. Menyadari bahwa Australia tidak meiliki potensi yang besar seperti Indonesia sebagai contoh dalam hal sumber daya alam, Australia lebih memfokuskan diri pada perkembangan teknologi industry. Selama tahun-tahun 1950-an dan 1960-an pabrik dipandang sebagai hal yang diperlukan bagi pertumbuhan nasional. Barang yang diimpor dikenakan pajak dalam rangka melindungi produsen Australia. Pemanfaatan teknologi meningkat. Barang-barang yang digunakan di rumah seperti kulkas, mesin cuci, radio dan televisi mulai diproduksi di Australia. Produksi mobil tumbuh dengan pesat untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat. Industri ini membutuhkan bahan seperti gelas, baja, plastik dan karet sehingga produksi bahan ini juga meningkat. Menjelang akhir tahun 1960-an produksi hasil pabrik menjadi sangat penting di Australia. Australia dulu kurang produktif karena tidak menggunakan teknologi terbaru. Kemudian kalangan industri di Australia menyadari kekeliruan ini. Sekarang Australia telah mulai mengembangkan industri berteknologi tinggi. Industri semacam ini menggunakan tenaga matahari, rekayasa genetika, peralatan kedokteran, laser, dan compact disc. Teknologi baru telah diperkenalkan dalam bidang jasa angkutan dan komunikasi. Melalui peningkatan dalam sector industry tersebut maka tonggak perekonomian Australia bisa dikatakan kuat. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pendapatan pertahun yang dimiliki oleh Australia merupakan modal yang sangat penting baginya untuk bisa menunjukkan kapasitasnya sebagai sebuah Negara besar. Dalam mewujudkan tujuannya tersebut Australia berhubungan baik dengan Negara-negara yang memiliki potensi serta kekuatan yang bisa mengangkat kapabilitas dari Australia itu sendiri seperti hubungan erat yang dijalin dengan amerika serikat guna menjadi back up nya dalam segala hal yang berkaitan dengan system internasional. Dengan adanya hubungan yang baik dengan Negara-negaraseperti amerika serikat dan inggris diharapkan dapat mempermudah Australia dalam menjamin keamanan di wilayahnya serta akses mudah dalam kerjasama internasional. Kenginan Australia untuk bisa memainkan peranannya dalam kawasan serta sekitarnya seperti Negara-negara asia, sesuai dengan kebijakan luar negerinya yang berupaya untuk menjalin kerjasama regional dan multilateral menjadikan Australia banyak terlibat dalam organisasi internasional serta terlibat dalam pemberian bantuan asing terhadap Negara-negara yang membutuhkan khususnya Negara yang juga bisa meberikan manfaat bagi Australia seperti Indonesia.

3. Kemukakan argumentasi tentang kapabilitas negara Anda, bila dibandingkan dengan negara-negara kelompok kawasannya

dilihat dari potensi yang dimiliki oleh Australia dimana dengan luas 7.682.300 km2 serta potensi sumbr daya manusia yang dimiliki oleh bangsa Australia. Secara kasat mata jika dibandingkan dengan Negara-negara yang berada di kawasan pasifik lainnya, praktis hanya Selandia baru yang dalam berbagai sendi kehidupan dapat mengimbangi kekuatan Australia. Berbagai kemajuan dalam bidang ekonomi dan juga industry serta teknologi memperlihatkan begitu besarnya jurang pemisah antara Australia dengan Negara-negara seperti Fiji, Vanuatu, tonga dll. Menyadari memiliki potensi yang besar di kawasan, maka Australia pun mencoba untuk bisa menjadi seorang leader dikawasan pasifik. Dimulai dengan terbentuknya South pacific Forum merupakan langkah awal dari Australia dalam menanamkan pengaruhnya. Dengan adanya kerjasama yang baik dengan amerika serikat dan Negara-negara eropa semakin mengukuhkan kekuatan dari Australia sebagai sebuah Negara besar yang ada di kawasan pasifik. Berbagai organisasi internasional serta berbagai macam perjanjian internasional yang diikuti oleh Australia semakin mempermudah akses Australia untuk unjuk gigi dalam kancah internasional. Sudah banyak berbagai macam bantuan baik berupa financial ataupun bantuan dalam bentuk jasa yang diberikan terhadap Negara-negara kecil yang ada di kawasannya. Sumber kekuatan selain dari kedekatannya dengan AS didapat Australia dari pengembangan sector industry nya yang maju. Beberapa sector industry penting bagi perekonomian Australia adalah sebagai berikut :

  • industry baja

Baja menjadi bahan dasar bagi industri modern. BHP, yakni salah satu perusahaan Australia yang terkemuka, menghasilkan baja di Australia. Perusahaan ini menghasilkan kira-kira 7,9 juta ton produk baja setiap tahun.

Proses pembuatan baja meliputi dua tahap:

  • membuat besi dari bijih besi, batubara, dan batu kapur

  • membuat baja dari besi, besi tua, batu kapur dan bahan-bahan logam campuran

Terdapat tiga perusahaan baja yang benar-benar terpadu di daerah pantai Whyalla, Newcastle, dan Port Kembla. Bahan-bahan mentahnya diangkut melalui kapal laut ke perusahaan baja dari berbagai tempat di Australia.

  • Industry perakitan mobil

Mobil dirakit dari berbagai bagian yang berbeda-beda. Bagian-bagian ini mencakup mesin, perseneling, kaca depan, tempat duduk, lampu, dan ban. Industri mobil harus bergantung pada beberapa industri yang memasok bagian-bagian suku cadang ini. Mobil pertama yang diproduksi di Australia adalah Holden. Industri mobil tersebut mempekerjakan kira-kira 10 persen dari semua pekerja pabrik di Australia. Digunakan robot untuk merakit mobil-mobil.

  • Industry pengolahan makanan

Industri pengolahan makanan di Australia terus berkembang. Industri ini bertumpu pada bahan makanan produksi lokal. Industri pengolahan makanan ini mempekerjakan 18% dari tenaga kerja yang ada dan merupakan 21% dari keseluruhan pertukaran barang dalam sektor pabrik. Telah dihasilkan berbagai jenis barang yang berbeda, seperti es krim, sayuran dan buah-buahan kalengan dan beku, minuman anggur dan daging serta ikan kalengan. Pada tahun 1993 telah diproduksi makanan olahan senilai 35,7 miliar dolar. Makanan dan minuman olahan merupakan 14% dari jumlah ekspor Australia. Enam dari sepuluh pasar ekspor terbesarnya ada di Asia. Pasar yang terpenting adalah Jepang. Pasar-pasar lain seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura sedang berkembang pesat. Ekspor makanan olahan ke Asia mencakup produk daging dan ikan, beberapa cereal (padi-padian) dan produk olahan dari susu seperti susu bubuk.

Bisa disimpulkan bahwa dari segi kekuatan perekonomian serta bidang kehidupan lainnya, di kawasan asia pasifik Australia memiliki kapabilitas yang tinggi. Dan hal tersebutlah yang pada nantinya akan mempermudah Australia untuk menyebarkan pengaruhnya serta menjadi leader bagi kawasan asia pasifik.