Australia-Indonesia Tingkatkan Kerja Sama Budaya

Untuk lebih meningkatkan hubungan diplomasinya, pemerintah Australia meningkatkan hubungan kerjasama dengan pemerintah Indonesia.

Kali ini, pemerintah Australia menitikberatkan pada bidang seni dan budaya. Melalui program yang dinamakan IN20Z yang berlangsung di tahun 2008 ini, Australia berharap kerjasama senia dan budaya kedua negara semakin baik. Program yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia resmi diluncurkan pada hari Kamis (6/3) lalu, di Restoran Nan Xiang, Hotel Sultan, Jakarta.

Melalui IN2OZ, Australia berharap seni dan budaya mereka bisa dikenal secara luas di Indonesia. ”Kami berharap melalui program ini, masyarakat Indonesia akan dapat menghargai kreativitas yang merupakan jantung sektor industri, sains, teknologi, juga pendidikan di Australia,” ujar Kuasa Dagang Australia di Indonesia Louise Hand, dalam sambutannya. IN2OZ sendiri merupakan program tahunan dari Departemen Luar Negeri Australia.

”Setiap tahun, kami selalu memilih negara yang berbeda untuk memperkenalkan seni dan budaya Australia,” sebut Public Affairs Officer Kedutaan Australia Angky Septiana. Sebagai program terdekatnya, adalah memperkenalkan kelompok musik asal negara kangguru tersebut di ajang Jakarta International Java Jazz Festival 2008. IN2OZ menghadirkan sejumlah grup papan atas mereka untuk tampil dalam festival Jazz bertaraf Internasional tersebut. Kelompok musik yang tampil antara lain : Coda, Logic, Kristin Berardi, James Sherlock, Katalyst, Megan Bowman, Julien Wilson Trio, serta Mike Nock Trio.

Selain penampilan grup musik asal Australia di Java Jazz, IN2OZ juga telah menyiapkan sejumlah program berikutnya. Antara lain : pertunjukan skate board dan BMX. Sejumlah artis olahraga ekstrim itu akan unjuk kebolehan dalam pentas budaya urban yang berlangsung pada pertengahan tahun. Selain itu mereka juga akan melakukan kerjasama dalam rangka pelestarian pusaka budaya dan karya seni. Kedua negara telah menyetujui adanya program pelatihan manajemen museum di Universitas Sidney pada bulan Juli. Program tersebut akan dikhususkan bagi staf senior Museum Istana Kepresidenan di Jakarta, Bogor, dan Cipanas.

Pada penghujung tahun, IN2OZ juga akan melaksanakan acara Museum and Art Gallery of the Northern Territory. Sebuah even pelatihan kesiapan penangangan bencana untuk koleksi warisan dan museum. ”Kami membawa bakat baru yang merepresentasikan kreativitas masyarakat Australia,” lanjut Angky. ”Departemen Luar Negeri Australia selalu memilih negara-negara dalam promosi Bukan hanya itu, akhir tahun 2008, masyarakat Indonesia juga diberikan kesempatan untuk membuat musik mereka sendiri dalam acara Strike-A-Chord, suatu pameran pendidikan sains keliling dimana warga dapat memimpin suatu orkestra maya.

Pada peluncuran program tersebut, tampil grup musik Coda yang sedianya bakal tampil di Java Jazz Festival. Coda, menghadirkan perpaduan musik dari sejumlah genre dengan secara unik. Mereka menyebutnya sebagai musik sinematik. Band yang digawangi lima personel ini, memainkan komposisi musik yang merupakan gabungan antara musik elektronik, rock dan klasik. Mereka menggunakan alat musik Biola, vibraphone, drum, bass, keyboard, serta synth untuk mendapatkan nada segar dan unik.

Para personilnya sendiri sudah tidak sabar untuk menghibur penonton Indonesia. ”Saya ingin segera memperkenalkan musik Coda pada Indonesia,” tutur pemain biola, Naomi Radom. Coda merupakan salah satu dari tujuh band yang disumbangkan oleh pemerintah Australia untuk tampil di Java Jazz. Selain Coda yang menawarkan musik fresh, enam kelompok lain juga menjanjikan performa luar biasa dalam penampilannya.

Katalyst misalnya, menghadirkan warna dance yang imajiner. Selain memainkan musik elektro, mereka juga menggabungkan unsur jazz, soul, funk dan Hip hop dalam karya-karyanya. Grup ini sudah seringkali tampil dalam even Internasional. Salah satunya adalah Festival All Tomorrow’s Parties yang diadakan oleh grup British kenamaan Portishead. Lalu ada lagi Mike Nock Trio. Mike Nock sendairi adalah salah satu master jazz Australia yang sudah begitu populer di mancanegara.

Grup ini telah memiliki pengalaman 25 tahun di AS. Mereka pernah bekerjasama dengan sejumlah musisi jazz kenamaan seperti : Coleman Hawkinks, Yusef Lateef, Dionne Warwick dan Michael Brecker. Ada lagi Julien Wilson Trio. Kelompok ini dikomnadani oleh Julien Wilson, seorang pemain saksofon tulen yang sudah sarat dengan pengalaman Internasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: